Damar Kurung Melintas Waktu

Posted: Oktober 19, 2010 in About my Town
Tag:

Keceriaanmu terus mengembang sepanjang waktu.

Apa kabar Damar Kurung? Seni tradisi yang menjadi ikon kebanggaan Kota Gresik, Jawa Timur itu ternyata masih terus menggema. Boleh jadi Masmundari, pelukis perempuan asal Gresik yang memopulerkan seni lukis Damar Kurung, sudah dipanggil oleh Sang Penentu Takdir, pada Desember 2005 silam, dalam usia 101 tahun (ada yang memercayai usianya 115 tahun, red). Tapi, keberadaan Damar Kurung tetap eksis ditakar oleh waktu hingga kini.

Ketika bertandang ke rumah sang pelukis di Jalan Gubernur Suryo VIIB no. 41 Gresik, Damar Kurung terus diproduksi. Karya itu pun masih bisa dijumpai di banyak sudut kota sebagai penghias gapura, perkantoran, atau rumah-rumah penduduk. Tak aneh, sebab Damar Kurung adalah warisan tradisi turun-temurun, yang kini dilanjutkan oleh anak-cucu Masmundari.
Jauh sebelum dipopulerkan Masmundari, Damar Kurung sudah dibuat oleh leluhurnya. Dalam sebuah kesempatan, Masmundari pernah berujar, “Kulo marisi ndamel Damar Kurung niki saking Bapak kulo, Ki Dalang Sinom. Sanjange Bapak, Nak, sesuk nek bapak ana umure, kon nggawe ngene.” (Saya mewarisi keterampilan membuat Damar Kurung ini dari bapak saya, Ki Dalang Sinom. Bapak berpesan, besok apabila Bapak sudah meninggal, kamu harus tetap membuat Damar Kurung).
Ia pun berpesan pada anak-cucunya, “Hidup harus berkarya. Orang akan selalu menghargai karya kita sampai kapan pun meski kita sudah mati”. Pesan itu akhirnya melecut semangat generasi berikutnya untuk tetap melanjutkan seni Damar Kurung. Rukayah, anak tunggal Masmundari, mewarisi keahlian melukis Damar Kurung. Tiga cucunya; Nur Hayati (34), Nur Samaji (27), dan Ahmad Andrianto (18) juga memiliki kemampuan yang sama.
Generasi pelanjut itu kini bahu membahu untuk terus melestarikan kesenian Damar Kurung, meski kebanyakan karya yang dibuat itu berdasarkan pesanan para pengoleksi lukisan. Keluarga ini juga makin terbuka dan mulai mengurus Hak Cipta dan Hak Paten untuk karya-karya yang dibuatnya. ”Kami memang bertekad meneruskan seni melukis Damar Kurung yang sudah dirintis eyang, selama puluhan tahun itu,” kata Nur Samaji tegas. 

Darah Seni
Melanjutkan kesenian tradisi Damar Kurung bagi keluarga ini tampaknya bukan hal susah. Keahlian melukis Nur Samaji misalnya, diakui, mengalir begitu saja tanpa kesulitan berarti. Kemampuan itu sudah diwarisinya sejak belia, sekira usia tujuh tahunan. Awalnya, Nur Samaji menggoreskan pena atau spidol sambil dituntun oleh tangan Mbah Masmundari.
“Waktu itu, rasanya sangat mudah melukis sesuai yang diinginkan eyang. Tangan saya tidak kaku dan goresan pena juga lurus-lurus saja. Setiap kali melukis dengan dipegang tangan eyang, terasa mengalir begitu saja,” kenang Nur Samaji.
Lambat laun kemampuan melukisnya tak lagi tergantung pada bimbingan tangan Masmundari. Makin hari kemahirannya makin mandiri dan lancar menorehkan tinta pena. Sejak itulah ia kian bersemangat berkarya dan terus mematangkan diri hingga kini.
Namun, proses kreatif Nur Samaji bukan berarti tanpa kendala. Suatu ketika, hasil lukisannya terpaksa disobek-sobek oleh Masmundari karena dinilai tidak cocok. “Itu pada saat medium lukisan masih kertas. Ketika menggunakan medium kaca, maka kaca itu akan dibanting bila tidak sesuai,” katanya mengenang. Bahkan, ketika medium berganti mika, Masmundari tak kehilangan cara untuk mengoreksi karya cucunya yang tidak benar. Caranya, ia kelupas cat air pada mika dengan kuku-kukunya.
Pada kali lain, Nur Samaji menyodorkan lukisan Damar Kurung hasil kreativitasnya dengan gaya berbeda. Ia memberi ruang agak lengang pada bidang-bidang lukisannya. Alhasil, ia kena semprot sang maestro karena dinilai kurang ramai. Ruang kosong sekeliling tokoh cerita dan pepohonan dalam lukisan itu diberi coretan-coretan lagi membentuk hembusan angin dengan garis-garis putus atau garis lengkung. Gaya ramai dan ceria itu seperti menjadi pakem seni lukis Damar Kurung.
Tak hanya di situ. Nur Samaji juga pernah mengalami kesulitan dalam urusan penceritaan. Karya Damar Kurung yang dibuatnya, kala itu, nyaris tanpa cerita. Ia pun tak pernah capek untuk terus berguru pada eyangnya. “Eyang biasanya agak keras mengkritik hasil karya anak cucunya. Kalau sudah begitu, dia akan dengan senang hati menjelaskan nilai filosofis setiap garis dan warna yang ditorehkan di atas mika atau lampion,” cetusnya.
Seiring waktu, karya dan kemahiran Nur Samaji kian matang. Tak heran bila banyak karyanya sempat diikutkan pada acara pameran lukisan bersama Mbah Masmundari. Termasuk pameran di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) pada Maret 2005 sebagai pameran yang dipersembahkan khusus untuk memeringati seabad usianya.
Juga pada Pameran Kerajinan Indonesia Dalam Interior (KIDI) IV di Balai Sidang Senayan Jakarta 1991, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1990, dan di BBJ pada 1987. “Saya memang banyak membantu eyang dalam berkarya. Tapi saya juga mempelajari kesenian yang ditekuni eyang ini,” tukasnya.
Tapi, diakui, ia belum percaya diri untuk tampil memamerkan hasil seni melukisnya sebagaimana yang pernah dilakukan Mbah Masmundari. Ia merasa bahwa hasil lukisannya masih belum sebagus karya eyangnya. Selain untuk stok, karya-karyanya kini banyak berdasarkan pesanan.
Biasanya, menjelang Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri pesanan sedang ramai. Beberapa minggu sebelum Ramadhan, Nur Samaji mendapat pesanan dari dua orang. Yang seorang memesan tujuh buah, seorang lagi memesan 30-an buah. Namun, ia hanya mampu memenuhi pesanan seorang yang memesan tujuh buah. Sementara yang seorang lagi minta selesai dalam waktu cepat, sehingga Nur Samaji tak menyanggupinya.
Untuk menyelesaikan pesanan itu, ia melakukan semuanya. Mulai membuat cerita, sketsa, mewarnai, membikin kerangka damar, hingga membentuknya menjadi Damar Kurung. Meski sebagian pekerjaan dibantu oleh ibu, kakak perempuan, dan adiknya. Adiknya, Ahmad Andrianto, juga memiliki kemahiran melukis sehingga dia banyak membantu menorehkan Damar Kurung. Sementara kakak perempuannya biasanya banyak membantu pada soal pewarnaan.

Perjalanan Waktu
Karya seni lukis lampion dengan design unik, berkarakter polos kekanak-kanakan, berhias warna terang kuning, merah, hijau, dan merah jambu pada Damar Kurung, hingga sekarang boleh dikata tak bergeser dari gaya serupa karya Masmundari, meski jauh sepeninggal sang maestro.
Dulu, kerajinan Damar Kurung dibuat untuk menghibur dan memberikan kesenangan kepada anak-anak yang tengah menanti datangnya shalat Tarawih pada bulan Ramadhan. Itulah sebabnya tema lukisan pada kertas Damar Kurung di masa lalu umumnya berkisah soal kegiatan orang melaksanakan shalat tarawih, tadarus, suasana Idul Fitri, halal bil halal, macapat, pasar malam, pesta khitanan, dan sebagainya.
Namun, seiring waktu, Masmundari juga melakukan perubahan dalam penampilan mulai dari bahan dasar hingga tema-tema kekinian tanpa meninggalkan tema lama bersifat religi. Masmundari mengangkat tema tentang kehidupan nelayan, pesta perkawinan, kehidupan etnis Madura, serta permainan tradisional anak-anak seperti menangkap ikan, menjaring burung.
Bahkan, ia cukup adaptif dengan tema-tema pesanan pemerintah, misalnya program Keluarga Berencana. Belakangan ia juga mengetengahkan tema-tema teknologi, seperti mesin traktor, pesawat terbang, siaran radio dan televisi lengkap dengan antena parabola. Gayanya penuh keceriaan, penuh warna dan penuh bentuk. Hampir tak ada ruang kosong di sana. Di masing-masing bidang itu, figur-figur manusia berjajar berbagi tempat dengan pepohonan, mobil, burung, serta atap-atap tenda dan rumah.
Di samping itu, sebagai putri seorang dalang sinom, sulung dari empat bersaudara ini juga melukis dengan pengaruh kuat dunia wayang. Ia memperlakukan bidang gambarnya seperti geber (layar) wayang. Semua figur yang digambarnya selalu tampak samping. Bentuk wajahnya juga hampir serupa. Hidung lancip dengan mata segaris.
Penempatan gambar yang berderet semacam ini memang menjadi ciri khas Damar Kurung. Sebagai lampion, Damar Kurung akan merefleksikan gambar-gambar tadi secara menarik apalagi saat lampu dalam lampion itu dinyalakan. Gambar akan terlihat bercahaya dan memberikan efek menarik seperti halnya wayang yang juga memainkan gambar di balik layar dan cahaya.
Cara membagi bidang gambar juga memperlihatkan bagaimana ia menganggap lukisannya semacam media bercerita. Bagian atas akan bersambung dengan bagian di bawahnya. Kadang ia membaginya menjadi tiga bidang. Namun, tak menutup kemungkinan ia melukis tanpa pembagian bidang.
Lampion Damar Kurungnya ada yang terbuat dari mika dengan tulang kayu, bukan lagi kertas dan bambu sebagaimana dulu pernah memanfaatkan kertas minyak dengan pewarna dari sumbo. Lukisan (gaya) Damar Kurung juga sudah dikemas seperti lukisan pada umumnya, mempergunakan kanvas dan cat minyak, yang dibingkai dengan kayu bujur sangkar.
Gaya Damar Kurung yang dipopulerkan Mbah Masmundari seperti demikian masih terus berlanjut hingga kini. Karya-karya generasi pelanjut tetap memperlihatkan gaya dan nuansa serupa. Hanya, tema-tema yang diangkat para generasi kini sudah banyak beringsut dari tema-tema lawas Masmundari. Meski diakui Nur Samaji, tiap orang mesti memiliki kekhasan sendiri-sendiri.
Selain tema, bentuk lukisan Nur Samaji boleh dikata nyaris sama. Cara membagi bidang sama. Tokoh-tokoh dalam cerita itu berkesan gemuk-gemuk. Kecuali lukisan adiknya, Ahmad Andrianto, yang tokoh-tokoh dalam lukisan itu digambarkan lebih kurus. “Nggak tahu kenapa, dia cenderung melukis orangnya kurus-kurus,” kata Nur Samaji.
Demikian pula medium kerajinan Damar Kurung yang terus mengalami perubahan. Dulu, lukisan pada kertas yang dikaitkan dengan bambu membentuk kotak. Katanya, medium itu pernah menggunakan kertas yang diapit kaca dan dikaitkan pada kayu berbentuk kota. Kemudian berubah lagi menggunakan medium kaca. “Tapi, melukis pada kaca cenderung bahaya, sehingga kita rubah pada medium lain,” cetusnya.
Hingga kini, medium yang dinilai paling bagus dan mudah, menggunakan mika dan dilukis pakai spidol dan diwarnai dengan cat air. Mika dengan sederet cerita bergambar itu lalu dikaitkan empat sisi pada kayu berbagai ukuran, membentuk kurung damar. Model seperti inilah yang terus diproduksi keluarga Nur Samaji untuk memenuhi pesanan.
Kerajinan Damar Kurung itu pesanan itu dipatok harganya mulai dari Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah. Hingga kini pun, Damar Kurung masih banyak digantung di berbagai sudut kota, seperti di pintu gerbang perbatasan antara Surabaya-Gresik. Selain itu, kerajinan tradisi ini juga banyak terpasang di beberapa kantor pemerintahan dan perusahaan, di antaranya di Kantor Gubernur Jawa Timur, kantor Pemerintah Kabupaten Gresik, lobi utama kantor PT Semen Gresik, Petromikia Gresik, dan lain-lain.
Meski demikian, tujuan utama keluarga ini lebih pada upaya melestarikan seni tradisi turun-temurun agar tak punah sebagaimana banyak karya para pelukis ternama setelah ditinggal sang maestronya. Berkarya bagi keluarga ini pun bukan hendak mencari penghidupan dari kerajinan ini.
“Kami memenuhi kebutuhan hidup mencari dari sumber lain, bukan dari seni tradisi leluhur ini. Terlalu tinggi bila karya ini dijadikan sebagai sumber penghidupan. Saya sendiri berusaha apa saja untuk memenuhi keperluan hidup. Pernah bekerja di pabrik, menjalankan rental mobil bersama teman, atau menjual besi tua, atau apa asal halal,” tandas pria yang melepas lajang seminggu menjelang Ramadhan itu.

Sumber : http://dongengdalam.blogspot.com/2007/11/damar-kurung-melintas-waktu.html

Komentar
  1. Anonymous mengatakan:

    semoga damar kurung tetep langgeng kalo bisa damar kurung tidak hanya dibuat oleh keluarga masmundari tetapi warga gresik diperbolehkan membuat gambar damar kurung agar damar kurung kurung mempunyai nuansa yang lebih luas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s